Etika Menggunakan HP~Sobat semilir, adab meliputi segala pola tingkah laku dan tindak tanduk kita didalam kehidupan. Apa saja, selagi masih berhubungan dengan makhluq Allah yang lain apakah itu manusia, hewan, tumbuhan dan yang pasti adab kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Kecuali jika hidup sendiri, tanpa siapapun, tanpa benda apapun, baik dari jenis manusia, hewan atau tumbuhan. Namun rasanya hal itu tidak mungkin. Tidak terlepas dalam hal ini adab atau etika menggunakan HP. Karena dianya terkait dengan orang lain "diseberang sana". Kan mustahil menelpon diri sendiri. Pastilah kita menelpon orang lain diseberang sana.
Seorang ulama bahkan telah merumuskan etika menggunakan HP. Beliau adalah Syaikh Dr. Bakar Abu Zaid ra. yang menulis sebuah kitab berjudul Adabul Hatif. Etika menggunakan HP tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Menyingkat pembicaraan. Percakapan melalui media telpon hendaknya dilakukan sesingkat mungkin untuk menghindari pemborosan pulsa tanpa adanya keperluan mendesak dan tidak mengganggu lawan bicara dengan pembicaraan yang panjang. 
  2. Tidak menyusahkan penerima telpon. Misalnya menelpon orang dan mengujinya dengan pertanyaan: “Apakah kamu mengenalku?” Ketika dijawab “Tidak” malah mencela dan menyalahkannya karena sudah tidak mengenalnya lagi atau karena tidak menyimpan nomor ponselnya. Padahal si penerima kadang lebih tua darinya, lebih alim atau terpandang. Mungkin dia memang tidak bisa menyimpan nomornya di ponsel atau disebabkan kapasitas ponsel yang penuh dan tidak mampu menampung nomor lebih banyak.
  3. Menjaga perasaan penerima telpon dan tidak membuatnya tersinggung. Mungkin dia sedang sakit atau sedang di tempat yang tidak layak untuk ngobrol, misalnya di masjid atau saat pemakaman. Atau sedang berbicara di forum orang banyak yang dia tidak ingin memotong pembicaraan mereka, dan sebagainya. Bila ternyata panggilan tidak dijawab, atau dijawab dengan sangat singkat,  maka hendaknya si penelpon memaafkan dan memaklumi keadaannya. Serta tidak berburuk sangka kepadanya. Dan bagi si penerima telpon hendaknya memberi tahu keadaannya, atau menjawab dengan singkat pada saat ada kesempatan, yang bisa dipahami oleh penelpon bahwa dia sedang berada di tempat yang belum bisa bicara panjang lebar. Dengan begitu akan lebih menenangkan hati dan jauh dari prasangka.
  4. Mematikan ponsel atau mengaktifkan mode silent saat memasuki masjid. Tujuannya agar tidak mengganggu orang yang sedang shalat dan mengganggu/mengurangi kekhusyu’an mereka. Jika terlupa mematikan ponsel atau memasang mode silent, lalu tiba-tiba ada yang menelpon, segeralah matikan atau hilangkan suaranya seketika itu juga. Karena sebagian orang membiarkan ponselnya tetap berdering, bahkan dengan nada musik yang mengganggu. Tidak dimatikan, tidak juga diredam suaranya. Dengan alasan takut melakukan gerakan selain gerakan shalat. Padahal perlu dia ketahui bahwa gerakannya mematikan ponsel tersebut adalah untuk kekhusyu’an shalatnya bahkan untuk jama’ah lainnya secara umum. 
  5. Menghindari penggunaan nada dering lagu dan musik. Karena didalamnya terdapat larangan keharaman dan celaan terhadap akal orang yang menggunakan nada lagu dan musik tersebut. Karena hal ini sangat mengganggu, terlebih jika sampai dipergunakan dalam masjid atau majlis-majlis umum.
  6. Tidak menggunakan ponsel pada saat berada di majelis ilmu atau pada forum-forum besar secara umum. Karena hal itu bisa mengurangi wibawa majelis dan mengganggu orang yang sedang menuntut ilmu. Menyakiti perasaan pembicara yang sedang menyampaikan pelajaran atau materi, dan menimbulkan cercaan terhadap pengguna ponsel tersebut. Disarankan agar tidak menelpon atau menjawab telpon ketika sedang berada dalam suatu pertemuan yang dipimpin oleh orang yang mulia, diisi oleh pembicara tunggal atau terdapat orang yang lebih tua dan dimuliakan. Karena menelpon atau menjawab panggilan telpon pada saat itu bisa memutuskan pembicaraan dan mengganggu konsentrasi hadirin. Serta merusak etika berbicara dan bermajlis.
  7. Jangan merekam pembicaraan atau mengaktifkan suara luar ditengah orang banyak tanpa sepengetahuan lawan bicara. Kadang hal itu terjadi ketika seseorang menelpon salah seorang temannya atau sebaliknya dia yang ditelpon, diam-diam dia merekam pembicaraan tersebut. Atau memperdengarkan suaranya melalui speaker, padahal di sekitarnya ada orang lain yang mendengar pembicaraan tersebut. Syaikh Bakar Abu Zaid dalam kitabnya Adabul Hatif berkata: “Tidak boleh bagi seorang muslim yang menjaga amanah dan tidak menyukai bentuk khianat merekam pembicaraan orang lain tanpa sepengetahuan dan seizinnya. Apapun bentuk pembicaraannya. Baik tentang agama maupun masalah dunia. Seperti fatwa, diskusi ilmiah, kajian ekonomi dan sebagainya”. (Adabul Hatif: 28)
  8. Tidak meninggalkan ponsel sembarangan di tempat-tempat umum. Misalnya pertemuan dengan teman-teman atau tempat dimana banyak terdapat anak-anak. Hal ini bisa mengundang hal yang akan menyusahkan. Bisa jadi ponsel anda digunakan menelpon orang lain yang tidak anda sukai, atau bahkan mungkin ponsel anda dicuri orang. Atau ada orang yang membaca isi pesan-pesan singkat yang tidak anda inginkan ada orang lain yang tahu. Hal seperti itu tentu sangat tidak menyenangkan dan sangat mengganggu.
  9. Waspadai penggunaan kamera ponsel. Sebagian ponsel dilengkapi fitur kamera yang tertanam di dalamnya. Fitur ini kadang dimanfaatkan untuk memotret gambar-gambar yang diharamkan. Misalnya pada resepsi pernikahan (walimah) dan sebagainya. Padahal tidak disangkal lagi akan haramnya perbuatan tersebut. Yang menyebabkan pelanggaran terhadap kehormatan dan privasi seseorang, keributan dalam rumah tangga dan menyebarkan perbuatan keji diantara orang-orang mukmin. Lebih parah lagi jika gambar-gambar yang diambil melalui kamera tersebut kemudian disebarkan, dengan dimanipulasi (misalnya memasang foto kepalanya ke tubuh orang lain) sehingga sosok dalam foto tersebut tampak seolah telanjang.
  10. Menjaga sopan santun dalam menulis pesan singkat. Kemampuan kirim-terima pesan singkat (SMS) memang merupakan salah satu fitur yang digemari pada ponsel. Namun pengguna ponsel yang berakal haruslah memperhatikan tatakrama dan aturan dalam ber-SMS. Hendaknya dia menulis SMS dengan bahasa yang indah, mengandung pelajaran, kabar gembira, pelipur duka atau menyenangkan. Bagus juga berisi pesan-pesan yang mengandung hikmah, dzikir, nasehat, kata mutiara atau semacamnya. Termasuk didalamnya jangan menyingkat salam.
  11. Meneliti kebenaran suatu pesan. Jika suatu pesan singkat (SMS) mengandung suatu informasi, maka konfirmasikan dulu kebenarannya sebelum mengirimnya. Jika berisi suatu berita, pastikan dulu bahwa berita tersebut benar adanya. Karena mungkin berita itu akan diteruskan ke orang lain. Pengirim mestinya paham bahwa pesannya bisa saja berpindah tangan, dan tersebar kemana-mana. Bila pesan baik yang dia kirimkan, dia akan mendapatkan manfaatnya. Namun jika pesan buruk yang dia sebarkan, maka bersiaplah menuai akibatnya. Maka perhatikanlah pesan yang akan dia kirimkan itu akan mendatangkan kebaikan ataukah justru berdampak buruk.
  12. Hindari pesan-pesan SMS yang tidak baik. Misalnya mengandung kata-kata jorok, celaan, gambar tak senonoh atau foto-foto porno. Atau ucapan yang memiliki dua makna, baik dan buruk. Pada saat awal membaca pesan tersebut yang ditangkap adalah makna buruk, namun setelah diamati dengan seksama diketahui bahwa maknanya adalah baik. Atau kalimat yang diputus dengan spasi cukup panjang sehingga lanjutan kalimat tersebut baru terbaca setelah menekan tombol ponsel. Semua itu menunjukkan perilaku dan etika yang buruk.
  13. Memastikan kebenaran nomor tujuan. Sehingga SMS tidak salah kirim ke orang lain dan mengganggu. Dan supaya tidak menimbulkan buruk sangka terhadap pengirim jika ternyata SMSnya tidak patut dibaca oleh penerima.
  14. Jagalah perasaan dan kondisi penerima. Kadang sebuah SMS bagus dan cocok bagi seseorang tapi tidak untuk orang lain. Terkadang layak bagi orang tua atau yang berkedudukan tinggi, tapi tidak sesuai untuk anak kecil atau yang tidak mengerti. Kadang baik bagi orang yang paham dan mengerti maksudnya, tapi tidak baik bagi orang yang tidak paham dan tidak mengerti maksudnya atau orang yang sensitif dan mudah berburuk sangka. Maka hal-hal seperti itu perlu untuk diperhatikan dan dijaga. Karena sering terjadi hal-hal yang berlebihan dan tidak memperhatikan etika tersebut menyebabkan orang saling berburuk sangka dan mendatangkan permusuhan.
  15. Jangan melihat isi ponsel orang lain dan membaca pesan-pesan di dalamnya tanpa izin pemilik. Hal itu bisa membuka aib seseorang dan termasuk tindakan kekanak-kanakan yang tercela. Bahkan termasuk bentuk khianat, dan bagian dari pintu-pintu suudzon (buruk sangka). Karena bisa jadi dia salah dalam memahami isi pesan SMS yang dia baca tersebut. Atau pesan yang dikirim untuk istrinya dikira untuk wanita lain. Atau pesan masuk yang berasal dari orang yang tidak disukainya, padahal pemilik ponsel tidak tahu menahu akan hal itu. Contoh-contoh tersebut semakin menunjukkan akan pentingnya menyimpan ponsel dengan lebih berhati-hati dan tidak meletakkannya sembarangan.
  16. Tidak adanya pengingkaran terhadap orang yang mengirimkan pesan tidak baik. Hal ini tidak pantas terjadi. Seyogyanya bagi seorang muslim jika mendapatkan SMS yang tidak baik segera mengingkari hal itu dengan menasehati pengirimnya dengan lemah lembut. Dengan demikian dia telah menegakkan syiar amar ma’ruf (menyuruh kepada perbuatan baik) dan nahi mungkar (mencegah kemungkaran), saling menasehati dalam kebenaran, mengingatkan dari kekeliruan dan mengajari orang yang tidak tahu jika ternyata pengirim tidak paham dengan pesan yang dikirimkannya. Demikian pula hendaknya seseorang segera menghapus pesan-pesan masuk yang tidak baik. Sehingga terhindar dari masalah yang mungkin ditimbulkan oleh pesan-pesan tersebut jika suatu saat ponsel tersebut hilang, tertinggal di suatu tempat atau pindah ke tangan orang lain.
  17. Tidak menggunakan ponsel untuk berhubungan dengan lawan jenis. Ini adalah dampak negatif yang paling berbahaya pada penggunaan ponsel. Dulu para ulama telah memperingatkan bahayanya penggunaan telpon. Dan memperingatkan untuk berhati-hati agar telpon tidak digunakan oleh orang-orang bodoh. Zaman makin maju, muncullah era telpon seluler. Maka makin bertambah saja kerusakan yang diakibatkan dari salahnya penggunaan ponsel. Karena ponsel bisa dimiliki siapa saja. Orang pandai, orang bodoh, laki-laki, perempuan, dewasa dan anak-anak dengan mudah memiliki perangkat canggih ini.
  18. Jangan sering bermain ponsel dalam forum. Khususnya pada pertemuan-pertemuan yang dihadiri orang-orang berilmu dan orang-orang terhormat. Sebagian orang tidak henti-henti membolak-balikkan ponsel yang dipegangnya, gonta-ganti nada dering, bermain game yang memang tersedia di beberapa model ponsel, atau hal-hal lainnya yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang berakal.
  19. Berpura-pura dan senang dipuji. Misalnya orang yang ingin diperhatikan, pamer kedudukan atau ingin menampakkan bahwa dia orang penting dengan membuat kesan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa ada seorang pejabat terhormat sedang mencari dan menghubunginya.
Demikianlah beberapa adab dan etika menggunakan hp yang telah dirumuskan ulama, insyaAllah jika kita amalkan maka kita akan terhindar dari hal-hal negatif dari dampak penggunaan HP pada tempat-tempat yang tidak dibenarkan secara syar'i. Wallahu A'lam~Semilir hati

0 comments:

Poskan Komentar

Jika sobat merasa informasi ini bermanfaat, silahkan sobat memberikan komentar. Jika sobat hendak men-COPY ARTIKEL INI, MOHON KIRANYA MENCANTUMKAN SUMBERNYA, MARI KITA SALING MENGHARGAI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL. Jangan lupa, klik Google+ diside bar sebelah kiri