05.01
0

Memaklumi Suatu Hal Yang Tidak Perlu Dimaklumi~Suatu ketika, ada yang kedatangan tamu yang kebetulan tamu tersebut membawa seorang anak laki-laki yang masih kecil. Penampilannya yang lucu membuat gemas. Tetapi tak lama berselang rasa gemas tersebut berubah menjadi jengkel yang dipendam didalam hati sambil berusaha memaklumi. Betapa tidak, sianak luar biasa aktif, memanjat teralis jendela, melompat-lompat diatas pegangan kursi, berlari-lari hingga memecahkan gelas minuman yang dihidangkan. Yang mebuat jengkel tersebut justru sikap orang tuanya. Betapa tidak, ketika melihat anaknya berperilaku usil dan mengganggu tersebut, orang tuanya tidak memberi teguran, penjelasan sedikitpun. Padahal keusilannya tersebut dapat membahayakan dirinya sendiri atau bahkan orang lain yang ada disekitarnya. Orang tua tersebut justru mengatakan : “Ya, maklumlah namanya juga anak-anak, jadi ya gimana lagi…” Apakah anggapan dan sikap yang seperti ini, seolah-olah menyerah dengan keadaan atau memaklumi dapat dibenarkan ?
Karena orang tua selalu memaklumi tindakan keliru apakah itu berupa keusilan, mengganggu dan perbuatan tidak menyenangkan lain yang dilakukan oleh anak-anak, secara tidak langsung si anak akan berpikir bahwa perilakunya saat itu sudah benar, tidak ada yang salah, karena tidak ada teguran dari orang tuanya sedikitpun. Sehingga ia akan selalu mengulangi tindakan keliru atau buruk tersebut. Hal ini akan semakin berdampak buruk apabila perilaku ini dipertahankan dan dibiarkan tanpa ada teguran atau penjelasan kepada sianak hingga sianak dewasa.
Seharusnya, kita tidak memaklumi suatu hal yang tidak perlu dimaklumi. Kita harus mendidik setiap anak tanpa kecuali dengan tegas dan bukan memarahinya apalagi dengan kekerasan, dan hal ini sebaiknya sudah dimulai semenjak usianya 2 tahun. Kenakalan terkadang timbul dari rasa ingin tahu pada diri anak, atau justru untuk menarik perhatian orang tuanya. Yang penting ada upaya untuk menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk dengan cara yang bijak dan cara yang disesuaikan dengan usia tumbuh kembang sianak. Semakin dini usia sianak, akan semakin mudah untuk diajak kerja sama dan diarahkan kepada hal-hal yang baik. Ia akan mau diajak bekerja sama selama kita selalu mengajaknya berdialog dari hati ke hati, tegas dan konsisten.  Ia akan mengingat dengan kuat sekali apa yang telah kita jelaskan dengan benar, mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak perlu menunggu hingga usianya beranjak dewasa. Semakin bertambah usia, semakin tinggi tingkat kesulitan untuk mengubah perilaku buruknya.~Semilir hati (Disadur dari 37 kebiasaan orang tua yang menghasilkan perilaku buruk pada anak)

0 comments:

Posting Komentar

Jika sobat merasa informasi ini bermanfaat, silahkan sobat memberikan komentar. Jika sobat hendak men-COPY ARTIKEL INI, MOHON KIRANYA MENCANTUMKAN SUMBERNYA, MARI KITA SALING MENGHARGAI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL. Jangan lupa, klik Google+ diside bar sebelah kiri